UP PLN Soreang Diduga Tutup Mata Ada 25 Tiang Listrik Dikampung Ticisuk Terpancang Tidak Standar PLN

CISONDARI_PASIRJAMBU_KABUPATEN BANDUNG – Mediabhayangkara1.com | Percakapan melalui telepon seluler pewarta Mediabhayangkara1.com (MB1) dengan Artur Benediktus Lesmana, pemilik Villa yang berada di Kampung Ticisuk, Jalan Pasir Awi Hilir, Desa Cisondari, menyangkut ada sebanyak dua puluh lima (25) batang tiang listrik miliknya tidak sesuai standar PLN, justru Artur menepis bahwa dirinya korban kebohongan dari pihak Subcoun yang mengaku sebagai rekanan PLN Cabang Ciwidey.

Bahkan ABL memaparkan, untuk pemasangan tiang sebanyak 25 titik sampai lokasi tanahnya, yang sedang dalam pembagunan Villa tersebut sudah menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk pemasangan tiang listrik, termasuk biaya kordinasi dengan Pemdes, tokoh masyarakat,  juga kepada pemilik tanah yang dilintasi tiang listrik tersebut.

Dulunya seingat ABL, kata dia, Subcoun atau Vendor pihak ketiga adalah rekanan anak cabang PLN yang beralamatkan di Ciwidey, pungkas ABL rekanan PLN mengatakan, tiang yang dipasang itu sudah sesuai SOP PLN, hal ini disampaikan oleh ABL melalui percakapan melalui telepon bahwa sebelum pemancangan tiang dirinya sudah berkoordinasi dengan PLN, kata Abl kepda kepada MB1.

Hal ini berbeda dengan klarifikasi Ikbal selaku Kordinator Wilayah PLN Cabang Ciwidey, beliau mengatakan pihaknya hanya rekanan kerja PLN rayon Kabupaten bandung.

“adapun konfirmasi kru MB1 menyangkut pemasangan atau pemancangan tiang listrik di kp. Ticisuk jalan Pasir Awi Hilir tidak sesuai standar PLN langgar SOP juga los pengawasan dari Aparatur setempat atau pihak PLN bukan tanggung jawab kami itu tanggung jawab UP PLN Soreang,” kata ikbal, kepada MB1.

Menariknya, justru pemasangan tiang listrik dengan pondasi asal jadi karna permintaan pemohon kepada Subcoun dengan harga termurah. Ironisnya ABL tidak memikirkan dampak dari kualitas tiang listrik dengan harga murah, tidak terpikirkan dampak nantinya akan sangat membahayakan warga masyarakat yang melewati jalan. Pasir Awi Hilir kp. Ticisuk desa Cisondari kecamatan Pasirjambu Kabupaten bandung.

Terlebih lagi, warga mengatakan jika pada proses pemancangan tiang PLN, pihak ketiga selaku Subcoun tidak memperhatikan kultur tanah yang labil, sehingga 25 batang tiang listrik sebesar lengan orang dewasa di jalan Pasir Awi Hilir, bahkan meteran atau KWH dengan daya 5500 W, hanya ditutupi daun ilalang sudah berjalan tiga bulan, ketika kru MB1 melihat ke- lokasi pemancangan tiang, kondisinya berkarat, terpancang miring-miring tidak karuan, tentunya akan berpengaruh pada kekuatan dan ketahanan tiang PLN tersebut.

Celakanya ada 25 batang tihang PLN yang dipancang sampai ke tanah milik ABL, salah satu pengusaha asal Jakarta untuk penerangan pembangunan Villa miliknya di Kp. Ticisuk terpasang asal – asalan termasuk tihang dan kabel jaringan berada dibawah pepohonan, dan mulai berpolemik dimata warga masyarakat yang lalu – lalang melewati jalan desa yang akan membahayakan mereka nantinya.

Sangat disayangkan rekanan PLN Cabang Ciwidey justru sudah mengetahui sejak dua bulan lalu akibat adanya gangguan listrik, termasuk bukan tidak mungkin PLN juga tahu karna meteran sudah berjalan dan transaksi pembayaran daya yang dipakai tiap bulannya masuk ke PLN.

Tapi kenapa para rekanan PLN Cabang Ciwidey tersebut justru diam, padahal sudah tahu, bukannya mewanti – wanti atau memberikan teguran atau menyampaikan ke PLN rayon Kabupaten bandung, hingga muncul beberapa sumber yang meminta kepada kru MB1 untuk dipublikasikan, anehnya lagi bermunculan para oknum yang diduga terlibat menikmati uang ABL, yang resah alias “kebakaran jenggot”, saat di konfirmasi warga sekitar mengatakan ada indikasi “pat gulipat” unsur pembiaran semala ini demi uang.

Sisi lainnya akibat dari kegaduhan terungkapnya oleh MB1, tiang listrik di Kp. Ticisuk tersebut ada salah satu oknum perangkat yang merasa tidak terima dengan terungkapnya tihang listrik tidak sesuai standar milik ABL yang sudah terpancang tersebut, karna harus di bongkar, justru salah satu perangkat tersebut meminta jangan hanya menyangkut tentang desa saja yang disikapi, dirinya meminta “kalau bisa cobalah telusuri juga proyek Kabupaten” kata salah satu oknum.

Untuk diketahui ukuran tiang listrik disesuaikan dengan kebutuhan jarak bentangan dan beban kabel yang di topang, dan jika belum ada SLO-nya maka PLN tidak berani memasukkan arus ke pelanggan tersebut, SLO adalah bukti pengakuan formal bahwa instalasi listrik yang dipasang telah sesuai dengan standard yang berlaku dan tidak boleh sembarangan.

Termasuk SOP dalam penanaman tiang listrik sangat perlu dipatuhi Vendor selaku pihak ketiga bukan asal cor, sebab dampak negatif akan muncul apabila pekerjaan tidak mengikuti SOP, penggunaaan tiang dan jaringan listrik yang tidak standar selain sangat membahayakan juga merugikan pihak PLN karena mengakibatkan energi hilang.

MB1 juga mengkonfirmasi salah satu warga RW, 05, mereka mengatakan “bagaimana kalau tiang listrik ini roboh akibat kurang dalam saat penanaman, termasuk saat ini tiangnya sudah ada beberapa yang bengkok,” ujar salah satu warga Kp. Ticisuk menambahkan, “tiang itu cepat atau lambat akan menyebabkan celaka bagi warga, entah siapa yang akan bertanggung jawab nantinya,” ujar warga.

Tanda kutip, sambung warga lagi, bahwa tiang listrik besi tidak standar PLN di jalan Pasir Awi Hilir Kp. Ticisuk desa Cisondari kecamatan Pasirjambu selain ukurannya kecil juga tingginya dipertanyakan, sedangkan tiang besi standar PLN ketinggiannya mencapai 7 hingga 13 meter.

Harapan warga di Kp. Ticisuk berharap agar PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Area Ciwidey mengganti tiang listrik besi sesuai standart PLN, dan bukan sebaliknya, jangan sampai nantinya ketika ada kebakaran, petir, hujan deras atau angin, karna tiang yang tidak sesuai Standar PLN “baru mereka sibuk mencari kambing hitam siapa yang bertanggung jawab,” kata warga kepada wartawan MB1, selasa tanggal 11 Januari 2022.

Klasifikasi Indra sebagai Supervisor tehnik lapangan kepada MB1, bahwa pengajuan pemohon untuk pasang daya 5500 W, biayanya hanya Rp.5.355.000 sedangkan informasi dari Artur selaku pemohon sampai mengeluarkan uang Rp. 30.000.000, kata indra itu bukan ke PLN, jelas Indra PLN akan melayani apabila ada perluasan jaringan, dan standar tiang 200 sampai 300, standar kabal PLN itu ukuran TIC 70, sedangkan kabal milik Artur jauh dibawa standar TIC 2*10.

Jawab Indra kabal milik PLN hanya 30 meter, justru Indra menepis menyangkut ada kelebihan kabal dengan tiang kami PLN tidak tau Artur pasang ke siapa, mungkin saja dia pasang ke calo jawab Indra, celetus Indra pun sedikit mengulas awalnya rekanan PLN Cabang Ciwidey tahu bahwa ada tiang yang tidak sesuai standar PLN karna KWH PLN pemohon rusak, makanya mereka tau ada penambahan tiang listrik yang tidak sepengetahuan kami dan tiang tersebut bukan dari PLN.

Lanjut Indra PLN tidak berani membongkar tiang yang sudah terpancang, karna tiang itu bukan milik PLN, yang punya PLN hanya meteran, dengan kabel sepanjang 30 meter, lebih dari itu kita tidak tahu ujar Indra

Ini atensi PLN rayon Kabupaten bandung, jangan sampai ada indikasi unsur pembiaran kepada rekanan atau Vendor yang melakukan pengerjaan demi keuntungan pribadi yang akhirnya berdampak kepada PLN sebagai Perusahaan milik Negara.

Menyikapi hasil penelusuran kru MB1 terhadap pemancangan tiang listrik yang sudah berdiri selama tiga bulan ke belakang, agar Polresta Bandung melakukan Investigasi ke lokasi pemancangan tiang listrik tidak sesuai SOP atau Standar PLN tersebut bahwa ada dugaan pembohongan dan penipuan kepada pemohon.

Yang menjadi pertanyaan sumber kenapa PLN UP Soreang tidak berani bongkar tiang milik Artur di kp.Ticisuk tersebut padahal sudah melanggar Standar SNI atau SOP, bukan mengkambing hitamkan seolah -olah karna pelanggan tidak kasih tahu ke PLN, sementara KWH atau meteran yang melewati tiang tersebut itu jelas – jelas milik PLN, ujar sumber kepada kru MB1 tanda kutip ada dugaan keterlibatan Oknum rekanan, karyawan PLN, juga Oknum yang membawa nama masyarakat desa Cisondari.

Warga masyarakat pun yakin ada unsur kelalaian, pembiaran dan tutup mata dari berbagai pihak, terindikasi ABL memberikan sejumlah uang ke berbagai pihak demi kelancaran dan mempermudah proses ijin pemasangan tiang listrik dulunya sebagai pemohon, ini yang mesti ditelusuri oleh APH Kabupaten Bandung karna berbau gratifikasi.

 

 

 

Red MB1

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: